Kamis, 31 Maret 2016

Aku Cina

Beberapa hari, hati gue bergemuruh saat membaca berita bahwa ada ancaman kerusuhan dengan target keturunan cina miskin dari seorang Jendral, seorang Dubes, dan beberapa kawan yang menyebarkan berita itu dengan nada mocking ...

Gue keturunan Cina. Itu given. Gak bisa diganti.

Dan begitu juga dengan 90% warga Indonesia. Karena sesungguhnya Melayu adalah ras Mongoloid (Cina). Kecuali bila anda berkulit hitam legam seperti teman2 di daerah Timur. Itu ras Melanesia.

Pun disebutkan, nenek moyang orang Indonesia berasal dari Yunan Selatan Yunnan (云南) adalah salah satu propinsi di Cina, tempat tinggal 25 suku minoritas (dari 56 suku yang diakui di Cina). Beberapa suku itu, cara berpakaiannya mirip dengan suku2 di Indonesia.

Anyway, walaupun banyak orang merasa lebih pribumi karena lebih dahulu tiba di Indonesia, mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa sejarah bangsa ini memang adalah sejarah kekerasan. Setiap pergantian kekuasaan menumpahkan darah. Dari jaman Ken Arok, bahkan sebelumnya. Sampai peralihan dari Soekarno ke Soeharto, dan Soeharto ke Habibie, semua butuh korban dan berdarah-darah. Darah sesama anak bangsa yang ditumpahkan entah  atas nama apa.

Kita patut bersyukur, bahwa pertumpahan darah terakhir saat Mei 98, membuahkan pemerintahan yang dalam peralihan kekuasaannya tidak lagi menumpahkan darah (dari Habibie ke Gus Dur, dari Gus Dur (satu2nya korban) ke Mega, dari Mega ke SBY (korban perasaan), dari SBY ke Jokowi (korban baper kejayaan masa lalu)). Semua relatif aman. Demokratis istilah kerennya.

Satu lagi buah positif dari Mei 98 adalah berani masuknya kaum cina (yang selama ini apolitis atau anti politis) ke partai politik, bahkan ke pemerintahan. Kita bisa melihat Hari Tanoe dengan santai muncul tanpa menutupi bahwa dia Cina dan non-Muslim. Sesuatu yang langka saat jaman Orde Baru. Kalopun ada, kamu harus menutupi fakta/ pura2 bukan Cina dan bukan non-Muslim dengan cara menikah dengan anak petinggi, dan masuk Islam (misalnya Prabowo).

Pun fenomena Ahok itu menurut gue adalah hasil dari Mei 98. Dimana pada titik terendah setelah kerusuhan dan ekonomi Indonesia mundur 10 tahun karena pelarian dana (bukan hanya dari pengusaha Cina, tapi juga dari pejabat pribumi). Beberapa orang pribumi yang ikut serta dalam penjarahan merasa menyesal telah ikut andil dalam merusak rumah bersama, karena setelahnya, merekalah juga yang tergencet dengan pengangguran, harga sembako mahal, dll, yang tidak sebanding dengan hasil jarahan.

Pun di kejadian Mei 98, saya yakin, bukan terjadi dengan sendirinya, melainkan karena ada provokator lapangan yang muncul dan memanaskan suasana (dengan membakar ban, teriak2 mengajak warga pribumi ikut menjarah), dan setelah suasana panas (warga mulai menjarah) orang-orang ini menghilang. Gue saksi mata dari kerusuhan ini, dan hingga beberapa tahun setelahnya, kerumunan orang di lampu merah membuatku keluar keringat dingin sebadan).

Kerusuhan terhadap Cina dialami langsung oleh alm papa mertua di Garut (toko hasil bumi dijarah dan dibakar habis), teman di Solo (ruko dijarah), teman di Ende (ruko dijarah dan dibakar), dan daftarnya akan semakin panjang. Semua pengalaman itu membekaskan banyak hal di hati kita, dan mempengaruhi pola pikir dan pola hidup kita.

Jadi kalau sampai ada ancaman provokator bahwa akan jadi kerusuhan dengan target Cina, menunjukkan gerakan Ahok ini sudah menjadi sepenting perebutan posisi Presiden (now I start wonder why, mungkin duit APBD nya segedhe gabon), dan sudah ada yang merencanakan untuk mengulang pakem 1998.

Tetapi sebaliknya, apabila Ahok tidak mencalonkan diri, apakah ada jaminan bahwa keturunan Cina tidak akan menjadi target apapun itu (misalnya: pemerasan oknum pemerintah/polisi). Tidak ada jaminan juga, kan?

Kalo sama2 gak ada jaminan, kenapa takut memilih atau mengusung Ahok? Ini hanya psy war yang ujung2nya milih gak milih tetap aja ada resiko.

Maju terus Ahok, aku dukung kamu bukan karena kamu Cina. Tp karena kamu berani melawan ketidakbenaran di lingkup kerjamu. (Sayang bukan KTP Jakarta).

Dari aku,
Anak Cina yang di usia 9 tahun diludahi tukang becak saat jalan kaki ke tempat les inggris.

Senin, 15 Februari 2016

Doa Bapa Kami

Sudah beberapa minggu ini, pikiran berada di antara sibuknya pekerjaan, persiapan silaturahmi ke keluarga besar, dan permasalahan yang dihadapi oleh asisten di rumah.

Untuk pekerjaan dan silaturahmi, bisa lah gue hadapin sendiri, karena memang semuanya on going. Pekerjaan walaupun slow dan stagnant, masih kelihatan ada progress-progress kecil yang bisa dicukup-cukupkan untuk menghibur diri. Silaturahmi lebih mudah, tinggal berangkat, karena tiket pesawat sudah di booking dari beberapa bulan lalu.

Untuk persoalan yang dihadapi asisten di rumah dengan keluarganya, ini yang membuat gue stress dan gak bisa tidur. Di satu sisi, kalo mau cuek, sih, bisa. Toh itu bukan urusan gue secara langsung.

Tetapi mengingat 14 tahun dia mengabdi di keluarga kita, dan kitalah satu-satunya orang terdekat dia yang bisa dimintai tolong, kita jadi punya kewajiban moral untuk menolong.

Belum lagi, ternyata kemarin pagi setelah aku ajak ngobrol lagi, ternyata ada plot twist yang selama ini gak diceritakan ke kita entah karena sebab apa. Mungkin malu. Jadilah sesorean sampai pagi ini gue bangun tidur dengan sakit kepala, dan uban bertambah banyak. (Stress is real, my friend)

Pagi ini, dengan kepala berat dan kekhawatiran darah tinggi yang gue derita mengakibatkan stroke, gue jalan nganter anak-anak ke sekolah seperti biasa. Setelah mereka turun di sekolahan, iseng aku buka e-Katolik dengan Daily Fresh Juice nya yang sudah beberapa minggu ini absen aku dengarkan.

Bacaannya injil Matius tentang Doa Bapa Kami, dengan pembicara Rm William Pau dari Semarang. Perikop ini sudah kita dengar berulang kali lah, bukan perikop asing. Tetapi homili hari ini, sangat menyentuh, karena merupakan sharing Romo tentang kekuatan Doa Bapa Kami.

Sepanjang homili, air mata mengembang di pelupuk mata. Mungkin hanya itu yang kita butuhkan hari ini... sepotong Doa Bapa Kami untuk kedamaian diri dan kedamaian asisten. Berpasrah pada kehendakNya.

"Bapa Kami yang ada di surga
Dimuliakanlah namaMu
Datanglah kerajaanMu
Jadilah kehendakMu
Di atas bumi seperti di dalam surga
Berilah kami rejeki pada hari ini
Dan ampunilah kesalahan kami
Seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami
Dan jangan masukkan kami ke dalam pencobaan
Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat
Amin."

Cibubur, 16 Februari 2016

Minggu, 07 Februari 2016

Act of Love - Happy Chinese New Year

Tiap tahun, saat malam Imlek dan sehari sebelum Imlek, kita selalu merayakannya di Bandung, di rumah mama Julian.

Dan tiap tahun pula, Mama sibuk memasak dan memastikan ke anak-anak dan menantu, serta 9 cucu yang hadir, bahwa makanan cukup. Yang berarti sebentar-sebentar Mama masuk ke dapur untuk menambah masakan.

Anak-anak, terutama Julian, suka complain ke Mama... Anak-anak inginnya saat berkumpul lebih banyak dipakai untuk ngobrol dan bercerita -- daripada sibuk di dapur, selain juga bahu Mama yang mulai sakit bila dipakai aktivitas dengan beban.

Tahun ini, Mama sudah berusaha mencuri start dengan mulai mempersiapkan masakan seminggu sebelumnya, supaya gak diprotes anak-anaknya. Tapi seperti biasa, ujung-ujungnya Mama berkutat di depan kompor dan sibuk memasak / menghangatkan makanan / mencuci bekas wajan, dll.

Kemudian tadi pagi, saat sibuk membantu Mama di dapur, Mama bilang: "Mumpung Mama masih bisa masakin kalian, Mama gak tega kalian gak cukup makan selama di rumah Mama"...

Hari ini aku belajar, buat Mama, memasak untuk keluarganya adalah her act of love. Memasak adalah satu hal yang Mama memang jago dan terbiasa lakukan sejak jaman gadisnya (Mama adalah sulung dari 12 bersaudara).

Sepertinya Mama menjalankan pesan Bunda Teresa: "Tidak perlu melalukan hal-hal besar, tapi lakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar"....

Semoga Mama sehat terus dan masih bisa memasak untuk keluarga many years to come... dan semoga kita semua diingatkan untuk melakukan hal-hal sederhana dengan cinta yang besar.

恭喜发财, 万事如意....

组大家发大财

Bandung, 8 Februari 2016

Sabtu, 23 Januari 2016

Elegi Dini Hari

Awan menyembunyikan bulan pucat yang bersinar malu-malu. Pendarnya tak mampu menyaingi  kelam yang masih berkuasa di langit. Lampu-lampu jalanan hening menyala. Seakan enggan menggeliat bangun menyambut hari.

Picture of last night's moon - courtesy of Jugono Widjaja from his Facebook page

Hawa dingin menyelinap menusuk pori. Bahkan di dalam kendaraan yang tertutup, masih nyata bekunya. Dari dalam hatikah asal mula beku?


Gereja dan Masjid menggeliat dengan umat, yang berduyun-duyun datang. Mereka lah yang berhasil memberontak dari cumbu rayu dan pelukan selimut hangat dan dekapan bantal yang sintal. Menolak kemapanan dan kenyamaan membelenggu mereka.


Mereka yang lain bilang: agama adalah candu. Ah, tahu apa mereka tentang agama? Bukankah Engkau yang menjadi candu kami? Selalu memikat dan menawan hati. Bagaikan laron-laron yang menari menuju cahaya, mendekat, lalu moksa.


Sungguh aku benci kata menawan. Seakan Engkau yang segala Maha menjadikan kami tawanan. Tetapi, bukankah kita adalah tawanan sepanjang hidup? Tertawan oleh pekerjaan, oleh media, oleh nilai sosial, oleh komitmen, oleh penyakit, oleh kesedihan, oleh kenangan?


Ada yang bilang, Engkau ingin kita bebas, Engkau memerdekakan. Tidakkah ironis kalau kita menjadi tawananMu yang hendak membebaskan kami dari maut?


Mungkin juga kita korban Stockholm Syndrome. Yang selalu ingin bersama dengan penyandera kita, dan merasa penyandera kita sebagai pelindung kita? Adakah manusia menikmati menjadi sanderaan walau berteriak-teriak ingin kemerdekaan?


Di sisi lain di kota ini, geliat manusia di resto fast food 24/7 mulai tampak untuk mempersiapkan hari. Juga pramuniaga swalayan menahan kantuk menjelang usai jam kerja. Satu-dua berjalan pagi mendahului sinar surya, mungkin takut kerusakan ozon menjadi penyebab kanker kulit.


Dan purnama terus turun, kali ini menggantung di bawah awan-awan rendah. Memancarkan sinar lebih bercahaya. Mungkin dia juga sudah lelah berjaga semalaman melihat lelap manusia. Dan langitpun semburat indigo menyambut hari.

24 Januari 2016

Jumat, 22 Januari 2016

Journey of Faith

I trust that faith has its ups and downs in everyone's life. Even mine. Even a Father. Even Christ's Disciples.

And amazingly, sometimes the worst incidents in my life, when I reflected back, is also the highest point of my faith.

Gue adalah korban baptis dewasa... (((korban!!!)))... yaitu saat SMA kelas 1. Krisma saat SMA kelas 2.

Saat tahun pertama pergi kuliah, tahun itu juga merupakan tahun meninggalnya Papa. 24 tahun yang lalu (iya, tua! Diam kau!!)... Dan saat itu, aku dikelilingi teman-teman sesama mahasiswa Indonesia, sehingga dalam saat yang paling rendah, aku merasa Tuhan hadir dalam diri mereka. Sahabat dari Emaus. Dua kakak beradik menemani tidur semalaman, dan mengurus tiket hingga paspor sampai aku kembali ke tanah air ke hadapan peti jenazah papa.

Dan selama dalam perjalanan studi, ada 1 Romo Jesuit yang saat itu sedang bersekolah di University yang sama seperti Alicia Keys (suer!!!)... sebut saja si Bunga.... (lahhhhh!!) ...... si Bunga dengan wibawa, kharisma, dan kepandaiannya (Jesuit, gitu loh!) mengumpulkan gerombolan umat Katolik di Amerika dalam mailing list khas Katolik.

Sekalinya retret bersama dengan anggota mailing list, yang saat itu dipimpin si Bunga, gue didhapuk jadi organis, karena organis yang awalnya bersedia ternyata gak datang. Dengan tertatih-tatih, gue main beberapa lagu karena sudah bertahun-tahun tidak memegang organ, selain memang gak tahu partiturnya, wong gak pernah jadi organia gereja.  Ndilalah sebelum Misa mulai, Romo Jesuit a.k.a Si Bunga, dengan indahnya memainkan beberapa lagu dengan teknik yang jauh di atas gue. Langsung minder pala barbie....

Buat gue yang gampang kagum dengan orang pinter, si Bunga ini bagaikan Romo setengah malaikat. Sudah pinter, bijaksana, pinter main organ, jago komputer dan jago komputer networking, dan (ini yang penting) bisa menggerakkan orang-orang untuk satu common goal.

Kesempatan lain yaitu retret bersama-sama dengan beberapa Romo Jesuit dan Romo lainnya, yang sama-sama di Amerika Utara, dan makin paham memang Romo-romo Jesuit itu cerdas-cerdas, pintar-pintar, dan belajarnya aneh-aneh (well, orangnya juga rada aneh-aneh sih, pada strong personalities semua).

Walaupun wali baptis gue sesungguhnya adalah guru agama saat SMA (yang saat ini entah kemana, ada rumour bila beliau sudah menjadi suster biarawati), tetapi deep-down inside my heart, gue merasa wali baptis gue sesungguhnya yang mengawal iman gue di saat-saat jauh dari 'rumah' itu adalah Romo-romo Jesuit ini. Terutama Si Bunga dan Romo Bas, yang saat ini menjadi pengajar di Sanata Dharma.

Setelah gue lepas bangku kuliah dan kembali ke tanah air sebagai kuli kapitalis, gue hilang kontak dengan Romo-romo tersebut.

Beberapa waktu lalu karena group whatsapp, mendadak saya terhubung lagi dengan Romo-romo Jesuit. Dan kemarin, terhubung dengan si Bunga. Duh... girangnya seperti ketemu sahabat lama. Guardian angel, bahkan.

Kemudian terbaca: "Saya di JKT. Sienny jangan kaget ya. Sejak Th 2006 Saya Sdh meninggalkan Serikat Yesus. Memang imamat belum dicabut Karena perlu proses yg panjang..........(truncated messages)"....

Saat itu, serasa dunia runtuh. My angel, guardian angel, ternyata Romo juga manusia. Romo adalah semanusia-manusianya manusia, walau kadang kita menganggap dia sebagai setengah malaikat.

Part of me is crushed, all that I believed, all the goodness in a Father, all the teenage idealism in me wants to scream. But another part of me, as a friend, as an old acquaintance, I want to congratulate him for finding what his heart desires. I want to respect his decision to be in charge with his own live, and at the same time pray for his happiness and his successful future ventures.

*nangis dulu*
*dasar cengeng*
*mungkin ini hormonal*
*mungkin juga karena kerjaan juga sangat menyita waktu dan mengecewakan*
*ambil napas panjang*

(Drama - drama - drama - drama - drama)

Today, I admit, was one of the lowest point of my life. But as I experiences many times, hopefully it will be the highest point of my faith.

Faith that God has provided different paths for us all, at times much better than our chosen ones.

Faith that Father is also human with their strong and weaknesses. And not (contrary to my belief that) all Fathers that left their ordinations, are doing it for worldly pleasure. And even if they are, they are not a bad person. They are still the kind and considerate person that they were in the first place. And who are we to judge those who have dedicated some parts of their life to God and for God only?

Pray for your well-being and happiness, Father Bunga....

Kamis, 07 Januari 2016

Memahami Tubuh - Body Journey

Tubuh kita adalah satu-satunya wadah jiwa kita selama hidup kita di dunia ini, at least saat ini (buat mereka yang percaya konsep reinkarnasi), jadi sudah layak dan sepantasnya kita menyayangi tubuh kita ini, sampai nanti kita beralih ke dunia lain, yang entah seperti di siaran televisi atau nggak.

Logis kan?

Kalo memang menyayangi tubuh kita ini logis, kenapa banyak orang membenci tubuh mereka? Mereka tidak puas dengan tubuh yang mereka bawa-bawa. Mereka mengharapkan paha yang lebih kecil, dada lebih besar, pipi lebih tirus, pinggang lebih ramping, ... dan ketidakpuasan lain.

Terima kasih industri kecantikan dan kebugaran yang meraup trilyunan rupiah tiap tahunnya, di atas ketidakpercayaan diri manusia. Kuncinya adalah makin tidak percaya diri, makin banyak potensi uang mengalir ke kantong-kantong perusahaan tersebut. Jadi dibuatlah semakin hari, standar kecantikan yang makin lama makin tidak masuk akal. Mata besar, rambut pirang, dada besar dan bundar yang anti gravity, kaki langsing tak berdaging, kulit cerah. Itu manusia atau boneka Barbie?

Yang lebih sedih lagi. Tubuh kita yang cuma sementara ini, kemudian seakan lebih penting daripada jiwa yang mendiaminya. Ibarat kata, kita minum kopi, tapi gelasnya yang kita bagusin terus, padahal isinya ya cuma kopi campur jagung yang beli kiloan curah (yang juga banyak orang suka, mind you). Pun penyajiannya dingin dan pahit.

Bukankah lebih nikmat minum kopi arabica kelas 1 yang disimpan bertahun-tahun, slowly roasted to golden brown, grind to fine powder sesaat sebelum diseduh, dan disesap sesaat setelah diseduh, walau hanya disajikan di wadah sederhana, misalnya gelas jadul.

Aku sendiri, butuh waktu lama untuk menyayangi tubuh ini... dan butuh waktu lebih lama untuk menyayangi jiwa ini. Sampai sekarang pun masih struggling dengan body-image acceptance dan soul-loving. Mungkin karena dari kecil gue gendut, dan sering jadi olok-olokan lawan jenis saat SMP -- bahkan saat reuni terakhir. (Ternyata dinamika remaja itu: gendut diolok-olok, kurus diolok-olok, item diolok-olok, putih diolok-olok, NASIBBBB!!!)

Dan setelah histerektomi lebih dari setahun lalu, gue memecahkan rekor dengan naik 5kg dalam setahun TANPA HAMIL!!! Apalagi kesibukan pekerjaan dan anak-anak mengakibatkan olahraga terlantar (disamping ibu-ibu penguasa treadmill yang bisa back to back 2 jam menguasai 1 treadmill tanpa perduli yang ngantri, yang sekaligus merangkap ibu-ibu penguasa remote control yang mengakibatkan gue males ke gym).

Selain itu, cedera bahu yang mengakibatkan kekuatan tangan turun, juga nyeri di pinggang kiri, sehingga menyulitkan bila harus melakukan yoga yang banyak bertumpu di tangan, atau melakukan gerakan membungkuk dan berdiri berasa,, oh so painfully bliss.... Mungkin juga ada unsur bosan karena sudah yoga lama tapi kalah sama Utami Dewi yang ikut yoga sekali langsung handstand...

Walhasil, gue kembali ke kebiasaan sedentary ala persahabatan .... (karena persahabatan bagai kepompong --- iya gue garing!) .... Sampai ketemu dengan Graceline Sinaga yang mengajar yoga di rumahnya.

Karena nyaris privat, seluruh gerakan yang kurang tepat dibetulkan sehingga mengurangi nyeri dan sakit di shoulder dan pinggang kiri. Misalnya gerakan sesederhana downdog, dia tarik-tarik pinggul kita ke atas seakan-akan mau digantung di langit-langit. memangnya gue lampu?  Tapi berkat ticer cantik satu ini, gue melakukan yoga dengan baik dan benar.

Tapi level keimanan gue terhadap yoga (ya Tuhan, ampuni aku yang murtad) benar-benar naik gila-gilaan sejak follow Instagram @crazycurvy_yoga yang biarpun chubby tapi sangat flexible dan strong.

Selain itu, karena scoliosis, belakangan kerasa banget punggung atas hingga shoulder ini sangat stiff gila-gilaan. Jadilah gue sering berusaha backbend di pinggiran kasur (dengan 7/8 tubuh tetap berbaring dengan nyaman di kasur, of course). Dan usaha-usaha ini bukannya mengakibatkan lebih enak tension di punggung atas, tapi makin menjadi-jadi. :'( ... huhuhu... Belakangan gue berusaha tidur dengan ganjelan handuk di belakang leher, tanpa bantal... tapi jadinya malah ngoroknya kenceng sampe diprotes Julian.

Hari ini, gue mulai yoga di kelas yang biasa gue ikutin. Gue amazed karena udah lama gak ngikut yoga yang full gerakan selama sejam dengan variasi yang 'lumayan'. Memang as predicted, ada beberapa  gerakan yang biasa bisa, kali ini gak bisa, karena kekuatan tangan yang melemah.  Tetapi amazingly, ada beberapa gerakan yang dulu gak bisa, sekarang malah bisa. Yang dulu uglig-uglig sekarang stabil. Puji Tuhan...

Yoga juga meyakinkan aku bahwa tubuh kita gak simetri. Tumpuan kaki kananku jauhhh lebih kuat daripada tumpuan kaki kiri, misalnya. Gak usah ngomong punggung dan gerakan yang melintir. Ingat scoliosis, trus ingat anak gadis yang meninggal setelah mengikuti chiopratic membuat gue bertahan dalam gemetar ....

Anyway busway... gue berterima kasih pada Tuhan yang memberi gue badan segedhe kebo... karena ini adalah tubuh yang kuat menyangga dan menggendong ketiga anak-anak yang dulu lucu sekarang garing. Tubuh yang membawa aku berpetualang ke tanah-tanah jauh seperti Dora the Explorer. Tubuh yang diberi kecerdasan diatas rata-rata sehingga gak mudah termakan fitnah, cuma termakan fitness.

Sekarang tantangannya adalah bagaimana menjadikan yoga sebagai gaya hidup, padahal gue omnivora dan doyan makan.

Biarlah hal-hal ini menjadi misteri Illahi...

Minggu, 13 Desember 2015

Swasembada Beras

Sebulan lalu, saat Boss Romusha bilang: "We will have meeting with rice producer", saya pikir ini hanyalah high level meeting dengan manusia-manusia Jepang rapi yang berjas dan wira-wiri dengan kendaraan Jepang pribadi dengan sopir pribumi yang membungkuk-bungkuk seperti biasanya meeting dengan kaum romusha yang lain.

Pemikiran itu seketika dipatahkan saat seorang gadis imut menyapa Boss Romusha dalam bahasa Jepang yang kedengaran seperti orang merepet lirih di akhir kalimat.

Dengan celana panjang khaki, dan topi explorer warna senada, sepatu boot, membawa gembolan satu tas besar, satu hand bag, dan 1 tas tenteng dari kertas, dia terlihat tenggelam dalam barang-barang bawaannya.

"Maaf, saya terlambat," katanya dalam bahasa Indonesia yang fasih. "Saya dari Subang naik bis jurusan Kuningan-Bekasi. Berhenti di Bekasi Utara. Naik taksi ke sini dari Bekasi Utara".  Sambil sibuk mengaduk-aduk tas, mencari kartu nama untuk diberikan kepadaku.

I love listening to the way she said 'Bekasi' in such a way that it sounds like Japanese word: 'Bukashi'. And I love the fact that she's not the corporate type with sleek suite, and hard headed negotiation skill.

Sesuai dengan arahan dari meeting di head office sehari sebelumnya, mulailah aku menanyakan pertanyaan yang sudah aku tuliskan dalam buku saya.

Berapa lama perusahaan berdiri, berapa luas tanahnya, berapa banyak sekali panen, setahun panen berapa kali, di mana saja areal tanamnya.

Kemudian dia mulai bernarasi dengan mata berbinar dan pipi pink dengan pori lembab sisa perjalanan di bus tadi: "Saya sudah di Indonesia 1.5 tahun. Perusahaan Japonica Rice sudah berjalan 4 tahun. Tanah kita yang milik sendiri 3-4 hektar. Tetapi kita juga bekerja sama dengan 6-7 orang petani plasma dengan total luas tanah 30-40 hektar."

"Area kita di Karawang hingga Subang. Serta 1 plasma di Puncak-Cianjur. Di Subang tanah kita dekat dengan BB Padi."

Dalam hati, what the heck is BB Padi. Segera sambil browsing di Asus ini, BB Padi ternyata adalah laboratorium milik Kementrian Pertanian yang meneliti tentang padi, lokasinya di Desa Sukamandi, Subang. Woh... gue nih, makan nasi tiap hari, tapi gak tau informasi seperti ini.

Gue iseng menyelingi dengan pertanyaan, apakah memang mereka sengaja mendekatkan diri dengan laboratorium milik, istilah dia, 'Ministry of Agriculture'?  Dan dia menjelaskan bahwa awalnya mereka juga tidak tahu ada laboratorium pemerintah di sana. Belakangan mereka baru tahu, dan saat ini mereka mengusahakan sinergi dengan BB Padi.

Awalnya adalah 1 cowo Jepang yang relatif masih muda, yang mau menanam beras Jepang di Indonesia (talk about penjajahan budaya), kemudian ada 1 petani (yang juga relatif masih muda) yang di Jepang sudah sukses dan punya lahan 100 hektar. Kemudian dia bergabung di dalam start up ini.






Di Jepang, kata gadis manis ini, dari tanam hingga panen dapat dilakukan dalam 1 bulan. Karena semuanya dilakukan dengan mesin. Di Indonesia 3-4 bulan karena manual. Si petani rekan mereka, akan pulang ke Jepang setiap November-Desember, menggarap sawah di Jepang sampai panen, kemudian kembali ke Indonesia, nenghabiskan 11 bulan hidupnya di sini, mengurus sawah dan mengajari petani lokal cara bercocok tanam.

Perusahaan ini menyediakan bibit, mengajarkan cara bercocok tanam, dan akan mengambil semua hasil panen dari petani plasma, serta menjualnya ke salah satu supermarket Jepang terkemuka di ibu kota, yang juga mempunyai beberapa cabang di kota-kota besar. Sebagai imbalannya, para petani plasma mendapatkan harga jual yang lebih tinggi daripada lokal.

To my surprise, dia bilang: "Iklim di Indonesia ini susah dikontrol.... Padi membutuhkan air banyak saat awal tanam dan membutuhkan air sedikir saat akhir tanam". Entah kenapa, gue jadi inget sawah gue di Farmville yang udah lama gue tinggal, karena Julian jadi sebel kalo gue main Farmville dan takut ketinggalan panen, keburu busuk tanamannya.

"Di Jepang, kita menanam diakhir musim gugur dan panen di awal musim dingin. Sehingga iklim dan air terkontrol. Di Indonesia, dengan hawa lembab dan curah hujan tidak menentu, sangat susah untuk menanam seperti di Jepang. Apalagi kalau sering hujan dan lembab. Banyak hama dan jamur menyerang."

Barulah gue tau, bahwa antara Karawang-Subang dengan Puncak-Cianjur pun, ada perbedaan iklim dan Karawang-Subang lebih favorable untuk menanam padi karena lebih jarang hujan daripada Puncak-Cianjur yang lebih sering terserang hama dan jamur.

Kemudian teringat bahwa pasca 1998 banyak saluran irigasi yang rusak, bertanyalah gue tentang irigasi. Dia menjawab: "Yes, we do have 'ulu-ulu'".

Boss Romusha dan gue sama2 bertanya: "What's Ulu-ulu?"..


Ternyata yang dimaksud itu "URU-URU" alias sistem pengairan di tanah pasundan, mirip seperti "Subak" di Bali.

Pendek kata, 2 jam bersama gadis manis yang mengabdikan hidupnya untuk mengajari petani lokal untuk bercocok tanam dengan cara modern ini, meruntuhkan kepercayaan diri gue tentang seberapa paham gue dengan asal muasal beras, yang setiap hari gue makan.

Dan lebih menohok lagi, bahwa yang lebih paham, yang lebih concern, yang lebih paham dengan kesinambungan sumber pangan kita, serta motor-motor kecil dari upaya swasembada pangan, terutama beras - makanan pokok kita, adalah orang asing.

Salah satu tujuan mereka adalah: memunculkan adanya "farmers' pride", kebanggaan sebagai petani. Dan ini exactly yang negara ini gak punya.  Petani dianggap sebagai simbol keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan.

Lihat saja, berapa banyak sawah yang akhirnya dikonversi menjadi pabrik atau perumahan karena generasi berikutnya menolak menjadi petani, dan lebih bangga menjadi buruh dengan UMP yang setahun beberapa kali dipaksa demo menuntut kenaikan upah. 

Berapa banyak lulusan IPB yang akhirnya benar-benar mengabdikan ilmu pertaniannya, alih-alih menjadi RI1 dan membuat album lagu #hoalahhhh.

Sampai kapan negara ini bisa swasembada beras, sedangkan lahan tanam makin lama makin sedikit, adapun hasil panen per hektar tidak makin meningkat.

Wallahualam bissawab... tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.

Cibubur, 13 Desember 2015

*semua foto adalah hak milik dari Taiyo Japonica Rice dari Company Profile.